Mocca Band Indonesia Kualitas Dunia

Image

Kisah Mocca berawal dari dua orang personilnya (Arina-Vokal, Flute dan Riko-gitar). Mereka sebelumnya tergabung dalam sebuah band kampus di Institut Pertanian Bogor. dan merasa lelah membawakan lagu-lagu milik orang lain sehingga memutuskan untuk mulai menciptakan karya sendiri.

Namun, materi yang telah gubah tidak dapat diterima sebagian anggota band mereka. Pada akhirnya karena satu dan lain hal, band tersebut memutuskan untuk membubarkan diri. Akibat mengalami kesulitan merampungkan materi lagu-lagu yang telah mereka ciptakan ke dalam format band, Riko mengajak Indra (Drum) dan Toma (Bass) untuk ikut bergabung. Terbentuklah Mocca pada akhir tahun 1999. Kesatuan tujuan, presepsi, dan lingkungan kampus yang sama melatarbelakangi terlahirnya formasi Mocca hingga sekarang ini.

Lagu-lagu Mocca biasanya berkonsep story-telling. Setiap penggalan lirik Mocca dituangkan ke dalam beat musik yang berbeda-beda disesuaikan dengan cerita yang sedang dibawakan, mulai dari waltz, bossanova, rock ‘n roll hingga disco 70-an.

Dalam live performance-nya selain empat personel utama, dulu Mocca menggunakan format big-band yang dibantu oleh beberapa additional player, antara lain pada gitar, perkusi, keyboard, trompet, trombone, dan saxophone. Tetapi seiring berjalannya waktu, sekarang Mocca hanya dibantu oleh dua additional player, yaitu Agung pada Keyboard dan Tomi ada Trompet. Mocca pertama kali mucul dalam kompilasi Delicatessen (2002), dan langsung merebut hati penggemar.

Satu tahun kemudian mereka mengeluarkan debut album mereka “My Diary” (2003) dengan label indie “FFWD”. Album ini meldak di pasaran. Lagu-lagu seperti “Secret Admirer” dan “Me and My Boyfriend” menjadi hits di mana-mana. Video klip “Me and My Boyfriend” mendapat penghargaan sebagai “best video of the year” versi MTV Penghargan Musik Indonesia 2003.

Bahkan mereka menandatangani kontrak dengan salah satu indie records di Jepang, Excellent Records, untuk mengisi satu lagu dalam album yang format rilisannya adalah kompilasi book set (3 Set) yang berjudul “Pop Renaisance”. Ada 3 disc yang diedarkan di Jepang dan Mocca berada di disc no. 2 dengan lagu “Twist Me Arround”.

Lagu-lagu Mocca sendiri menggunakan bahasa Inggris dengan alasan memudahkan penulisan syair serta kesesuaian dengan warna lagu pop dengan sentuhan swing jazz, twee pop, dan suasana ala 60-an.

Mocca kembali merilis album kedua mereka tahun 2005 bertajuk “Friends” masih dibawah label indie, Fast Forward Record. Dalam album ini Mocca tidak tampil sendirian. Mereka menggaet dua musisi andal untuk memperkaya musik mereka. Dari dalam negeri, mereka menghadirkan Bob Tutupoli untuk mengisi suara dalam lagu “This Conversation” dan lagu yang khusus dibuat untuknya, “Swing It Bob”. Mereka juga berduet dengan musisi asal Swedia, Club 8. Bersama duo asal Swedia ini, Johan dan Karolina Komstedt, Mocca membawakan lagu “I Would Never”.

Karier Mocca semakin menanjak. Tak hanya di dalam negeri, mereka mengembangkan sayap ke Asia. Singapura, Malaysia, Thailand, dan Jepang telah menikmati album mereka.

Mocca juga terlibat dalam pembuatan lagu soundtrack. Kuartet ini pernah mengerjakan soundtrack film “Catatan Akhir Sekolah” karya Hanung Bramantyo dan soundtrack sinetron TV “Fairish the Series”.

Mocca juga membuat sebuah mini album berisi 6 lagu, 2 di antaranya berbahasa Indonesia. Mini album ini sebelumnya berjudul “Sunday Afternoon”, tapi dirilis dengan judul “Untuk Rena”. Mocca terinspirasi naskah cerita film anak-anak berjudul “Untuk Rena”. Mocca tak hanya mendapat inspirasi. Mereka juga mendapat kesempatan untuk memasukkan “Happy!” dan “Sebelum Kau Tidur” sebagai soundtrack film garapan Riri Riza itu.

Tahun 2007, Mocca mengeluarkan album ketiga mereka, “Colours”. Album ini memuat materi baru, termasuk 2 cover song yaitu “Hyperballad” (Bjork) dan “Sing” (The Carpenters) serta sebuah kolaborasi dengan Pelle Carlberg (Edson) yang kemarin sempat menjadi tamu di LA Light IndieFest, dalam lagu “Let Me Go”.

Bebarapa tahun terakhir, Mocca sibuk melakukan tour di berbagai negara. Bahkan di Korea, lagu-lagu Mocca sangat digemari. Tercatat, lagu Mocca beberapa kali dipakai sebagai jingle iklan di negara tersebut. Tidak heran jika akhirnya Mocca memiliki fans setia yang dinamakan swingingfriends Korea. Karena itu, meski sempat redup di kancah musik lokal, nama Mocca tetap berkibar di luar negeri.

Saat ini, Mocca yang pada 31 Maret 2010 nanti akan tampil di acara Seminar Kreatif yang diadakan oleh HMJ Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati ini sedang sibuk membuat sebuah mini album. “Rencananya, album ini akan diluncurkan pada Maret sekarang,” ujar Arina, saat ditemui di sela-sela penampilannya di GOR KONI, Bandung (21/2).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s